Sebuah drama yang kesedihannya melebihi melodrama, kengeriannya melebihi Silence of The Lamb, dan kekejamannya tak terlukiskan dengan kata – kata. Itu sungguh terjadi sahabatku, dan itu benar – benar terjadi di bumi Palestina. Saudara – saudara kita disana telah sangat akrab dengan dentum bom dan letusan peluru. Kematian sanak keluarga sudah hal biasa. Penderitaan itu telah mereka rasakan selama bertahun – tahun sahabatku, bukan hitungan hari atau bulan. Anak – anak kecil disana tidak bermain dengan mobil dan boneka, ataupun petak umpet seperti kita, mereka berkejar – kejaran dengan tank baja yang memburu mereka. Batu dan ketapel di tangan – tangan mungil mereka bukan untuk melempar mangga, ataupun jambu, tapi untuk membela diri dan memukul pasukan yang bersenjatakan mortir dan peluru, pasukan yang menjajah mereka di bumi mereka sendiri, pasukan Israel.                         Bisakah kau bayangkan semua itu?

Itu sungguh terjadi sahabatku, dan itu benar – benar terjadi di Bumi Palestina. Sebuah drama yang kisah kepahlawanannya melebihi Spiderman, kehebatannya melebihi Superman dan kekuatannya melebihi The Hulk. Namun apa kita mengenal mereka? Pahlawan – pahlawan yang lahir dari bumi Palestina? Mereka yang gagah berani. Mereka yang telah mati, namun tetap hidup di hati, yang ketiadaberadaanya justru semakin membangkitkan semangat dan menginspirasi jutaan pemuda Palestina..Shalahuddin Al-Ayyubi, Imad Aqil, Muzhaffar Quthz, Izzuddin Al-Qossam, Yahya Ayyash, Ayyat Akhrass..sungguh Allah akan memberikan tempat yang sangat mulia bagi mereka di sisi-Nya.

Bukannya kita tidak bisa melakukan apa – apa untuk saudara kita di Palestina. Doakan mereka dalam setiap sujud panjang kita, ingatlah mereka selalu di setiap santap malam kita, ingatlah mereka dalam setiap rupiah yang kita belanjakan, dan ingatlah mereka dalam setiap tidur nyenyak kita. Selalu ikuti perkembangan beritanya sebagai wujud perhatian kita, dan hentikan penggunaan produk – produk yang telah menyumbang kesengsaraan di Palestina..Beritahu teman dan keluarga.

Ketika tubuh lunglai berjatuhan bagai daun rasamala dan aroma surga semakin terasa, darahpun serasa embun kasturi, wanginya sungguh biuskan hati. Hingga kematian pun datang, sambut jiwa penuh suka cita. Lekang satu, dua berhamburan, ikatkan hati lekatkan suasana..Teriring doa untuk manusia – manusia pilihan, saudara – saudaraku di Palestina, sungguh janji Allah sangat dekat. Penantian panjang akan berakhir, dan sambutlah kemenangan yang telah dijanjikan.. But, this is timeless..

________________________________________________________________________

Keisengan ini bermula ketika saya melihat masakan mami di wajan. Waktu itu saya baru nyampe rumah, dari perjalanan Bandung – Semarang yang melelahkan, dan seperti biasa kaki saya melangkah ke dapur untuk ngecek makanan yang ada karena duduk lama di travel selalu bikin saya laper. Katanya itu iga sapi yang dimasak dengan bumbu Allahualam. Karena bumbunya ngasal alhasil orang rumah pada ga doyan (termasuk mami saya) dan si iga pun teronggok begitu saja di wajan selama 2 hari (he??). Kayanya masih bisa dimanfaatkan, sayang banget kalo dibuang. Saya jadi teringat Sop Kongro Maranu yang enak di daerah Riau Bandung. Terbersit ide untuk mengubah iga-ga-jelas itu menjadi sop kongro yang mbuh – mbuhan juga rasanya nanti kaya apa. Berbekal resep hasil searching dari internet dengan gubahan seperlunya, mulailah saya berksperimen dengan si iga malang itu.

Begini cara bikinnya :

  1. Si iga tadi dibersihkan dari bumbu2 yang melekat, kemudian direbus bersama 2 lembar daun salam, 3 batang cengkeh, kayu manis secukupnya, lengkuas secukupnya, 3 sdm air asam dan garam. Rebus dengan api kecil sampai iganya empuk sampe dagingnya kiwir – kiwir dan agak – agak lepas gitu dari tulangnya
  2. Iris tipis 3 butir bawang merah kemudian goreng hingga kering
  3. Haluskan 3 butir bawang putih, ½ biji pala, 1sdt merica kasar, ½ kluwek. Lalu bumbu halus tersebut ditumis hingga harum
  4. Masukkan irisan daun bawang, tumisan bumbu dan bawang goreng ke dalam rebusan iga, tambahkan gula dan garam secukupnya sesuai selera. Bisa juga kita tambahkan bahan – bahan lain seperti irisan wortel, kentang atau kacang merah sesuai selera.
  5. Siap disajikan

Ini dia hasil akhirnya,

Sop Konro Jenk Diar

Well, emang terlihat agak – agak manjijikkan. Tapi kata saya enak loh. Gak percaya? Monggo dicicip, selamat menikmati!! :)

Pagi ini. Rintik hujan turun perlahan, alunannya merdu, membius dan merayu.. mengusikku yang sedang terpekur dengan secarik surat di tangan. Bahasanya yang indah membuatku bertahan dan kembali tenggelam dalam maknanya. Tak kuhiraukan rayuan si rintik hujan.. Namun.. semakin lama semakin keras..semakin deras..seolah meminta perhatianku untuk sedikit meliriknya. 1 menit.. 2 menit.. 5 menit.. kutegakkan wajahku dan beranjak menghampiri dinding kaca berterali yang menancap anggun tak jauh dari tempatku menyandarkan punggung. Kunyamankan diri diatas kursi malas di dekatnya. Sambil menerawang melewati dinding kaca itu, kulayangkan pandang ke tembok putih di sisi pagar..tampak dingin..basah oleh air hujan yang membelainya, membekaskan ritme yang cantik. Bunga – bungaku tampak segar dan menari – nari tersapu angin. Bau tanah semerbak menyeruak, wanginya menghampiri relung – relung jiwaku, nyaman..menenangkan.

Dalam kehangatan jiwa yang bertabur emosi penuh warna, aku terpejam, dan kunikmati simfoni alam.


Ya Rabb..

Ini tentang aku dan Kamu. Tentang nafas yang kau alirkan kedalam setiap pembuluh darahku. Atas nikmat hidup yang kau limpahkan lewat kedua mata ini, kedua tangan, kaki, telinga dan semuanya. Terima kasih. Rasanya tak banyak dzikir yang terucap ataupun doa yang terpanjat. Namun begitu Kau mencintaiku, dan begitu sering aku melupakan-Mu. Maafkan aku.


Ya Rabb..

Di setiap pemberhentian keretaku, semoga itu bukan perjalanan yang sia – sia. Aku hanya seorang hamba, yang mencoba memaknai setiap kisah hidup ini. Di km 22 ditemani alunan hujan yang merdu, aku merenungi kisah – kisahku terdahulu. Malu, tangis, tawa. Kau buat aku merasakan semuanya. Dan betapa aku menikmatinya.. Duhai maha pembolak balik hati, jika Kau panjangkan nafas ini, dewasakan aku dalam setiap pemikiranku, sadarkan aku dari tiap kekhilafanku, dan ijinkan aku untuk merangkai banyak cerita.


Ya Rabb..

Maha pemberi cinta.

Jika Kau memberiku cinta, bangunkan aku jika jatuh karenanya.

Jika Kau memberiku cinta, sembuhkan aku jika terluka karenanya.

Jika Kau memberiku cinta, tenangkan aku jika menangis karenanya.

Jangan biarkan aku hanya dekat dengan-Mu dikala sedih dan gundah

Ajari aku untuk selalu mencintai-Mu, dan mencintai yang lain hanya karena-Mu.


Ya Rabb..

Tunjukkanlah padaku.. bahwa yang benar adalah benar

Semoga aku dapat menjalankan

Dan..tunjukkanlah padaku.. bahwa yang salah adalah salah

Semoga aku dapat menjauhinya


Ya Rabbi..

Setiap detik begitu langka

Apa yang bisa kulakukan? Apa yang bisa kuberikan?

Tuntun aku

Ridhai tiap langkah dan jalanku..

Aminn


Asbahna ‘ala fitratil Islam..wa kalimatil ikhlash..


Alunan merdu pelan menghilang, berganti dengan kehangatan mentari yang memancar. Datang sebentar namun begitu meninggalkan kesan. Hujan..aku akan merindukanmu selalu..


(Bisa juga saya bikin beginian :D )

______________________________________________________________________

Buku ini adalah terjemahan dari The Night Prayer (Salat al-layl) yang menguraikan tentang keutamaan shalat tahajud, ketinggian derajat shalat tahajud, tata cara serta manfaat shalat tahajud.

Sedikit cuplikan…


Percakapan antara Mu’adz bin Jabal dengan Rasuullah.

“Wahai Rasulullah! Ceritakan kepadaku tentang amal yang menyebabkan diriku masuk surga dan menjauhkanku dari api neraka.”

“Kau telah menanyakan tentang sebuah permasalahan penting,” kata Nabi saw.

“Bagaimanapun urusan ini menjadi mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah. Engkau harus menyembah Allah Swt dengan tidak menyekutukan apapun dengan-Nya; laksanakan shalat wajib; bayarlah (tanggungan) zakat, jalankanlah puasa selama bulan Ramadhan. Jika mau, akan kuberitahukan kepadamu pintu – pintu menuju kebaikan.”

“Ya. Aku mau,” kata Mu’adz bin Jabal.

Nabi saw bersabda, “Puasa adalah penjagaan; sedekah menghapus kesalahan – kesalahan seseprang dan begitu juga seseorang yang bangun di tengah malam untuk mendirikan shalat dengan niat ikhlas demi Allah Swt.”

Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah – mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. (QS. Al-Isra :79)

Ketika engkau hendak tidur, setan mengikat kepalamu dengan tiga belitan pemberat rasa kantuk. Ketika engkau bangun seraya menyebut nama Allah, satu lilitan akan terlepas. Ketika engkau berwudhu, lilitan lainnya akan terlepas. Ketika engkau melakukan shalat tahajud, lilitan yang terakhir akan terlepas.


Untuk itu, Maka Bertahajudlah.

Emphaty

Ada yang punya banyak?

Buat dibagi – bagiin

Dah punya belum?

_____________________________________________________________________________________________

Siklusnya manusia : lahir – bayi – anak kecil – remaja tangung – remaja – dewasa – tua – tua renta – innalilahi wa inna ilaihi ra’jiun. Saat manusia memasuki fase tua renta, mau tidak mau, suka tidak suka, sifat- sifat manusia akan kembali lagi seperti anak kecil. Pikun, pelupa, manja, kadang suka aneh – aneh, lucu, pengennya diturutin, pengennya didengerin dsb. Intinya butuh perhatian ekstra kepada mereka, perhatian yang sama, yang mereka berikan dulu, ketika mereka merawat anak – anak mereka di waktu kecil.

Alangkah sulit menghargai orang tua ketika mereka berubah kembali menjadi anak kecil.

Keprihatinan ini langsung mencuat ketika menonton satu tayangan televisi. Ceritanya tentang profil satu panti jompo, dan curhatan beberapa penghuninya.

Rata – rata, keberadaan mereka disana karena “dititipin” sama anak-anaknya. Dititipin tapi kok gak pernah ditengok. Malah ada yang lagi luntang lantung di jalan, trus “ditemuin” sama pengurus panti jomponya. Ada juga yang tinggal disana karena kesadaran sendiri. Mirisnya, datangnya gak diantar, dan gak pernah dijemput untuk pulang. Mereka sedih kalau mengingat keluarga. Punya anak, menantu, cucu, tapi gak ada yang memperhatikan. Yang menguatkan adalah, mereka tidak sendiri, penderitaan batin itu dirasakan bersama penghuni panti yang lain. Memprihatinkan. Padahal di masa tua, tentunya mereka ingin hidup tenang, berkumpul bersama keluarga. Namun sepertinya dewi fortuna belum berpihak pada mereka.

Bingung, heran. Kok bisa y? Salah siapa?! Apa emang dasar anaknya yang kurang ajar dan gak tau balas budi? Mungkin juga. Apa salah mereka mengasuh anak? Atau mereka pernah menyakiti hati anak? Anak terluka, sakit hati, sehingga tidak peduli lagi? Bisa jadi. Kalau iya, susahkah memaafkan orang tua? Apa kita gak pernah punya salah ke orang tua? Kita emang tidak tahu apakah mereka senyum atau ngomel pas kita ngompol waktu bayi. Tapi mereka mengganti popok kita. Kita tidak tahu apakah mereka ikhlas atau ngedumel pas mbayarin uang sekolah kita. Tapi mereka melakukannya. Mungkin mereka gak menunjukkan kasih sayangnya. Tapi diam – diam mereka mendoakan kita.

Pertanyaan – pertanyaan dan pernyataan – pernyataan itu biarlah menjadi pertanyaan dan pernyataan. Yang jelas, semoga kita bukan termasuk anak – anak yang menelantarkan orang tua di masa tua mereka. Dan semoga kita tidak ditelantarkan anak – anak kita di masa tua kita nanti. Amin.

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya Teka-Teki :

Imam Ghazali : “Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?”

Murid 1 : “Orang tua”

Murid 2 : “Guru”

Murid 3 : “Teman”

Murid 4 : “Kaum Kerabat”

Imam Ghazali : “Semua jawaban itu benar, tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Surah Ali-Imran:185).

Imam Ghazali : “Apa yang paling jauh dengan kita di dunia ini ?”

Murid 1 : “Negeri Cina”

Murid 2 : “Bulan”

Murid 3 : “Matahari”

Murid 4 : “Bintang-bintang”

Imam Ghazali : “Semua jawaban itu benar, tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari2 yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama”.

Imam Ghazali : “Apa yang paling besar di dunia ini ?”

Murid 1 : “Gunung”

Murid 2 : “Matahari”

Murid 3 : “Bumi”

Imam Ghazali : “Semua jawaban itu benar, tetapi yang paling besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al-A’raf : 179). Maka kita harus hati2 dengan nafsu kita,jangan sampai nafsu kita membawa kita ke neraka. (Na’udzu billaahi min zaalikh).

Imam Ghazali : “Apa yang paling berat di dunia ini ?”

Murid 1 : “Baja”

Murid 2 : “Besi”

Murid 3 : “Gajah”

Imam Ghazali : “Semua jawaban itu benar, tetapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah : Al-Ahzab : 72). Tumbuh2an, binatang, gunung dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah Swt meminta mereka menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini, tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah Swt sehingga banyak manusia masuk ke neraka karena gagal memegang amanah”.

Imam Ghazali : “Apa yang paling ringan di dunia ini ?”

Murid 1 “Kapas”

Murid 2 “Angin”

Murid 3 “Debu”

Murid 4 “Daun-daun”

Imam Ghazali : “Semua jawaban itu benar, tetapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT. Gara2 pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan sholat”.

Imam Ghazali : “Apa yang paling tajam sekali di dunia ini ?”

Murid2 dengan serentak menjawab : “Pedang”

Imam Ghazali : “Itu benar, tapi yang paling tajam sekali di dunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri”

Nazaruddin berbincang-bincang dengan hakim kota. Hakim kota, seperti umumnya cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu sisi saja.

Hakim memulai, “Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, …”

Nazaruddin menukas, “Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukum lah yang harus disesuaikan dengan kemanusiaan.”

Hakim mencoba bertaktik, “Tapi coba kita lihat cendekiawan seperti Anda. Kalau Anda memiliki pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan dipilih?”

Nazaruddin menjawab seketika, “Tentu, saya memilih kekayaan.”

Hakim membalas sinis, “Memalukan. Anda adalah cendekiawan yang diakui masyarakat. Dan Anda memilih kekayaan daripada kebijaksanaan?”

Nazaruddin balik bertanya, “Kalau pilihan Anda sendiri?”
Hakim menjawab tegas, “Tentu, saya memilih kebijaksanaan.”

Dan Nazaruddin menutup, “Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya.”

Dua katak jatuh ke dalam sekaleng es krim. Sisi – sisi kaleng itu mengkilap dan curam, sedangkan krimnya begitu dalam dan dingin.

“Oh, bagaimana ini?” kata katak yang pertama, “ Ini takdir, tidak ada pertolongan. Selamat tinggal sahabatku! Selamat tinggal dunia yang menyedihkan!” ungkapnya lagi sambil menangis dan akhirnya tenggelam.

Akan tetapi katak kedua yang juga terjatuh ke dalam sekalen es krim tersebut langsung mengayuhkan kakinya untuk berenang. Sesaat dia menyeka wajah dan mengeringkan matanya yang penuh krim. “Paling tidak, aku akan berenang sejenak,” katanya. “Tidak akan membantu dunia, jika satu katak lagi mati.”

Satu atau dua jam dia menendang dan berenang, tidak sekalipun dia berhenti untuk mengeluh. Tetapi terus menendang dan berenang serta berenang dan menendang. Kayuhan kaki si katak kedua ini, akhirnya membuat es krim yang ada di dalam kaleng tersebut lambat laun mulai mengeras. Setelah es krim itu mulai berubah seperti mentega, katak pun lalu melompat

Satu hal yang membedakan dua katak dalam kisah diatas adalah cara pandang mereka terhadap dunia di sekelilingnya. Dan bagaimana mereka bersikap terhadap hambatan yang terjadi. Cara pandang ini sangat dipengaruhi oleh informasi apa yang selama ini secara terus menerus masuk ke dalam pikiran kita. Jika selama ini informasi yang masuk ke dalam pikiran, baik melalui bacaan, obrolan, perenungan maupun tontonan adalah hal – hal yang yang sifatnya memotivasi diri, maka orang tersebut cenderung untuk mengambil hikmah terhadap permasalahan yang terjadi sehingga membuatnya lebih optimis. Lain halnya jika yang masuk ke dalam pikiran kita adalah informasi – informasi yang cenderung melemahkan diri, informasi negative tentang orang lain,dsb. Hal ini tentu akan sangat mempengaruhi dirinya untuk memandang secara pesimis terhadap permasalahan yang terjadi. Cara pandang yang positif ini akan sangat mempengaruhi efektivitas kerja kita. Cara pandung yang positif akan memampukan kita untuk selalu optimis memandang situasi dan kondis yang sedang terjadi di lingkungan kita. Cara pandang tetrsebut secara tidak langsun juga akan mempengaruhi bagaimana kualitas hidup dan nilai hidup yang dimilikinya. Itulah sebabnya mereka yang mempunyai cara pandang positif akan memiliki willingness to do more ( keinginan untuk melakukan lebih dari yang diminta) dan memiliki watak pekerja cerdas. Leh karena itu mari kita berpikir positif.

When I was born,

the first word that I had heard ,

were the words of Allah being whispered through my ear.

And I felt Allah’s power in mysoul,

that day Islam tok me in its fold. 

 

Reff : 

     I am a Muslim, Islam my deen,

     Allah my lord, his word Quran,

     Muhammad prophet, praise be upon him,

     I’m a Muslim for all the time. 

 

As I grew up, walking in this great big world,

I gaze in awe at the wonders of Allah,

and as I learn the cruel lesson’s of life,

Islam shone through as my guiding light.

 go to reff..

 

Look at me now, family around in my death bed,

I know not when Allah will call me home,

the life I died, O what a blessed thing,

as death comes to me this word I will sing

go to reff..

______________________________________________________________

Lirik lagu diatas disadur dari satu file yang formatnya .swf. Judulnya imamuslim. Tadinya saya pikir file tersebut berisi animasi atau semacamnya, soalnya .swf merupakan salah satu file “publishan” Macromedia Flash. Pas dicompile, isinya ternyata cuma lirik lagu tersebut dengan satu tombol play dan pause. Pas tombol play ditekan, subhanallah, gak cuma melodinya, liriknya pun bikin terharu..