Pas lagi diem dan merenung.. di tengah dinginnya malam yang lagi hujan lebat..entah kenapa tiba – tiba teringat satu episode reality show termehek mehek Trans TV yang ditayangin berminggu – minggu lalu … yang endingnya membuat pipi saya basah … yang selanjutnya tanpa saya sadari dalam waktu ½ jam … sambil sedikit bengong di depan laptop … dengan ditemani secangkir teh anget..jadilah tulisan ini
Kakak mengadu nasib di Jogja,
demi mewujudkan keinginannya menjadi penari,
dan membuktikan pada ayahnya bahwa ia anak yang berguna.
Surat dikirimnya sebagai penyambung tali silahturahmi,
namun tak pernah ada balasan.
Kakak terpukul, dan merasa terbuang.
Hingga koma pun, tak satupun keluarga mendampingi.
Semakin merasa terbuang.
Diputuskannya untuk hidup sendiri.
Keluarga tak mengerti,
kenapa Kakak tak kunjung pulang.
Surat balasan yang dikirim, selalu dipulangkan kembali.
3 tahun dalam ketidakpastian.
Mereka juga tak tahu kemana harus mencari.
Ending of the story, tim termehek mehek Trans TV berhasil mempertemukan Kakak dengan ibunya yang lumpuh, adiknya yang lelah menangis seharian, serta kabar bahwa sang ayah telah tiada. Kakak pun pingsan dan tak sadarkan diri.
ASUMSI : Tayangan yang disuguhkan adalah kisah nyata dan bukan rekayasa..
Komentar saya setelah nonton tayangan tersebut “Dramatis..kayak sinetron.”, dan ada sedikit pertentangan batin. Di satu sisi ada rasa sedih dan prihatin, sampe ikut nangis juga. Di sisi lain sedikit menyalahkan si Kakak yang menjadi kunci kisah tersebut. Pliss deh. Jaman modern sist! Kenapa harus surat? Gak ada hape? Gak ada telpon rumah? Penampilan 3 tokoh tersebut tak menunjukkan kalau mereka orang yang kekurangan. Adiknya modis, kakaknya juga. Si Kakak bahkan diceritakan telah mengelola sebuah toko buku, yang tentu penghasilannya lumayan.
Okelah kalau tak punya hape atau telepon rumah. Lalu kenapa gak mencoba ngirim surat lagi? Atau pulang sekali – sekali? Gak ada usaha untuk cari tahu kabar keluarga ya Kak? Yah, mungkin buat Kakak nggak sesimple itu. Tidak dijelaskan secara gamblang, tapi barangkali memang ada satu permasalahan ruwet antara si Kakak dengan keluarganya, pertentangan batin dalam dirinya sendiri yang membuatnya bertahan dengan sikapnya yang menurut saya keras hati. Sepertinya ada satu problem besar yang melibatkan emosi – emosi terpendam dalam dirinya (halah), yang membuatnya berpikir, “Cukup sekali aja mengirim kabar, setelah itu kita lihat reaksi keluargaku nanti.”
ternyata diam tak menyelesaikan masalah
menyesalkah?
mengertikah kau kini?
jangan egois
jangan berharap orang lainlah yang harus mengerti dirimu
Ketika akhirnya dia memutuskan untuk mengirim surat, namun akhirnya kecewa yang datang karena tak ada balasan. Seandainya saja ketika muncul pertanyaan “Kenapa tak ada balasan ya..??”, kemudian dia dengan kreatif memunculkan berbagai alternatif jawaban, menguasai dirinya dengan pikiran jernih, berpegang pada akal sehat, dan tidak terpaku pada kesimpulan buruk yang terus meracuninya, tidak bersikap cuek dan praktis tanpa mengkajinya lebih dalam lagi (hnng, kayak kenal), tentu endingnya tidak akan seperti itu. Seandainya saja dia berbaik sangka.. Ya, berbaik sangka.. walau pada prakteknya memang sulit. Tapi bagaimanapun, semoga kita bisa belajar dari kisah diatas.
Hmmm..
Bebaskan diri kawan,
dari perangkap persepsi,
yang boleh jadi membelenggu pikiran,
bahkan mematikan hati,
hingga menutupi kebenaran.
Bebaskan diri kawan,
bukalah mata hati,
dan lihat semua dimensi,
yang boleh jadi tersembunyi,
atau tak menampakkan diri.
Miss komunikasi itu racun. Miss komunikasi itu pemicu masalah. Berbahaya. Dua pikiran tanpa titik temu, berujung pada pangkal yang berbeda. Tak ada koneksi dan tak menyatu.Tayangan tersebut sangat membuka pikiran saya bahwa komunikasi memang penting. Sangat penting. Bahkan sangat sangat penting (perlu berapa sangat lagi kira – kira?), tidak hanya dalam hubungan keluarga saja, tapi dalam hubungan apapun yang melibatkan manusia dengan manusia. Katakan! Terangkan! Ungkapkan! Jelaskan! Utarakan! Sampaikan! Namun dalam berkomunikasi juga belajarlah untuk mendengarkan, memperhatikan, memahami, bereaksi, berempati. Sepertinya mudah ya? Apa iya?
Gara – gara nonton acara tersebut, tumbuh tekad yang kuat dalam diri saya, kelak saya berkeluarga nanti, komunikasi harus jadi budaya, bercerita harus jadi kebiasaan, tidak hanya kepada pasangan saja, tapi juga kepada anak – anak saya (heee, kapan ya??)
4 Komentar
Yar,, koq aku bangets ya..
hiks.. hiks.. aku lagi terbelenggu nih,,
malah jadi miss komunikasi sama all frendz..
Belenggunya dilepasin aja atuh..
maklum..masa-masa nganggur emg kdang bkin qt fokus sm diri sndiri..
I know kok
yah,minimal tuker2 kabar lah..
Semangat em!!
yar….link blog-ku ganti dong…ke wangtry.wordpress.com
ok ok
kalian berdua tuh…pada kmana to..?? ga ada kabar…
oke boss, dah diganti
kita berdua?? lagi berduaan,,hehe