hatiku bukan terbuat dari besi dan baja

.

aku lelah dengan perasaan ini

lelah…

dan tak pernah selelah ini

.

tapi sudahlah

aku hanya ingin diam dan bernapas..

.

dan bolehkah aku meminta segelas air?

Dear friend,

Ramadhan kali ini sungguh berbeda. Bukan hanya karena ini kali pertama saya merasakan Ramadhan  sebagai seorang anak (pekerja) yang sedang belajar hidup mandiri untuk mencari sesuap nasi (dan semangkuk berlian), namun lebih ke perjuangan yang harus saya lakukan untuk menjalani tiap – tiap malam Ramadhan ini dengan semangat dan ikhlas. Berbeda, karena yang sudah – sudah saya selalu melewatkan Ramadhan di zona nyaman, dengan lingkungan yang serba kondusif, wajah – wajah yang familiar, teman – teman yang saling mengingatkan, serta waktu yang flexible. Ramadhan kali ini saya melewatkan sebagian besar waktu di tempat yang lingkungannya serba tidak kondusif, wajah – wajahnya tidak familiar, dengan rekan – rekan yang sebenarnya baik tapi hhh, serta mesti berkejar – kejaran dengan waktu.

Khusus di bulan Ramadhan, biasanya kantor – kantor memberi kebijakan dalam hal jam kerja. Umumnya waktu pulang jadi lebih cepat dari hari – hari biasa. Tapi di tempat saya berbeda, jam kerja tetap dari jam 08.30 – 17.30 plus – plus. Plus 10 menit, plus 20 menit bahkan kadang plus 30 menit >.<, sementara saat hari – hari kerja, PP kantor-kosan bisa memakan waktu hingga 1 jam, karena macetnya itu. Bisa ditebak, tidak mungkin saya berbuka puasa dengan nikmat dan santai di kosan.

Jadilah setiap hari saya selalu membawa ini,

DSC00951

Berjuta – juta penjual makanan berjejer di depan masjid dekat kantor dengan menjajakan macam – macam menu mulai dari teh liang, gorengan hingga bubur ayam. Namun entah kenapa saya males dan tidak nafsu melihatnya, padahal biasanya paling tidak kolak, es kelapa muda, es dawet atau es buah harus ada dalam daftar menu buka puasa saya. Yah, itung – itung ngirit sambil praktekin sunah nabi, akhirnya sebotol air dan beberapa butir kurma jadi pilihan berbuka. Dan setelah dicoba ternyata memang cukup mengenyangkan, di perut pun terasa lebih enak.

Kemudian setiap pulang kantor selalu mampir kesini

DSC00971Sebenarnya masjidnya luas dan gedhe, namun yang membuat kurang nyaman karena tempat wudhu dan kamar mandi sedang dibangun, masjidnya jadi sedikit kotor. Disamping itu karpet tempat sholatnyapun agak dekil. Jadilah saya selalu membawa – bawa sajadah dalam tas. Untung sajadah yang saya punya ukurannya tipis sehingga tidak terlalu berat dan bisa praktis masuk dalam tas.

Selepas maghrib jalanan sudah tidak terlalu macet, menunggu angkot juga tidak makan waktu lama. Namun biasanya perjalanan pulang  membawa saya tiba di daerah kosan pada kisaran 5-10 menit menjelang Isya. Pas, mepet dan nanggung kalau mesti mampir ke kosan baru lanjut traweh.

Lalu diputuskan setelah turun dari angkot langsung lanjut kesini.

DSC00973Dari luar tampak biasa saja, tapi ketika masuk hamparan karpet merah bermotif jejeran sajadah terhampar luas. Karpetnya bersih, mimbarnya indah, lampunya terang benderang plus kipas angin yang membuat suasana di dalam masjid ini lebih semilir. Namun yang bikin bete, saking bagusnya manajemen majid ini, sehingga selepas sholat Isya selalu ada pesan kesan dari pengurus masjid yang bisa makan waktu hingga seperempat jam yang setelah itu baru dilanjut ceramah yang kadang – kadang bisa lebih dari setengah jaman. Hadoh..(-_-)?.

Ikhlas dee.. ikhlas..

Pulang teraweh saat yang paling menyenangkan, karena saatnya hunting makanan dan kemudian lanjut ke kosan untuk bertemu bantal dan guling.

Sejujurnya aku lelah..

Aku merasa diuji, fisik dan batin


Masih ada yang kurang ni,,, dan akupun mencari

Minggu pagi kesini

DSC00983

Perkenalkan, ini sedikit bagian dalam masjid Al – Azhar. Saya suka masjid ini, (rasanya, nanti pengennya akad nikah disini aja deh,ehehe). Masjidnya bersiih banget dan wangi, karpetnya tebal, ornamennya juga cantik. Beberapa tiangnya ada yang difungsikan sebagai rak untuk menyimpan Alqur’an dan buku – buku tafsir lengkap dari juz 1-30. Tidak hanya pas ramadhan, tapi setiap minggu selalu ada pengajian Ahad pagi disini setiap pukul 07.00. Membuat liburan lebih berarti? Why not

Hm,

Ramadhan taun depan kaya apa ya?

Eh…

Ramadhan taun depan bisa jumpa lagi gak ya?

Muhammad

Muhammad

Muhammad betul – betul unik. Didasarkan pada sumber – sumber berbahasa Arab dari abad ke-8 dan ke-9, buku ini mendekati dan mereportase kata – kata dari orang – orang lelaki maupun perempuan yang mendengar langsung Nabi Muhammad berbicara dan menyaksikan sendiri peristiwa – peristiwa dalam hidupnya. Martin Lings mampu menghadirkan kesederhanaan maupun keagungan cerita. Buku ini terpilih sebagai biografi Nabi terbaik dalam bahasa Inggris pada konferensi Sirah Nasional di Islamabad pada tahun 1983. Sejak itu karya ini telah dipublikasikan dalam bahasa Prancis, Italia, Spanyol, Turki, Belanda, Tamil, Arab, Jerman, Urdu, dan sekarang Indonesia. Pada 1990, setelah buku ini mencuri perhatian Universitas Al Azhar Kairo, penulisnya menerima bintang kehormatan dari Presiden Hosni Mubarak

Diantara deretan buku laris yang dipajang di etalase Gramedia Matraman, buku inilah yang paling mencuri perhatian saya. Warnanya eye catching perpaduan maroon-jingga, dengan nuansa silhouette khas padang pasir,  terlebih lagi judulnya Muhammad, membuat saya makin penasaran. Tanpa ragu saya langsung mencari buku tersebut di lantai 2. Membaca ringkasan di halaman belakangnya membuat makin jatuh hati dan ingin memiliki. Membayangkannya terpajang di lemari saja sudah sangat excited. Namun sayangnya tak ada sampel untuk buku ini, barangkali saking berharganya sampai – sampai tak ada satu bukupun yang terbuka segelnya sehingga sayapun tak bisa membaca baca sekilas isinya. Padahal biasanya, sebelum membeli saya selalu membaca sampel buku terlebih dahulu. Karena terkadang sampul dan resume sangat memikat, tapi isi bukunya tidak sesuai ekspektasi. Tapi karena sudah terlanjur suka dan penasaran, saya putuskan untuk membeli.

Saya awali dengan membaca biografi Martin Lings, sang penulis. Menurut catatan, diantara karya – karyanya, buku Muhammad inilah yang paling menonjol. Dan wow, ternyata beliau seorang Mualaf, yang hingga akhir hayatnya mendedikasikan diri untuk menulis karya – karya Keislaman. Hebat ya?! Rasanya tak salah membeli buku ini.

Ketika mulai membaca Bab 1, mulanya sedikit kecewa karena ternyata bahasanya agak “berat” dan banyaaak sekali nama – nama tokoh, suku – suku,  plus silsilah – silsilah keluarga yang susah banget dirunutnya. Namun karena sudah terlanjur beli saya paksakan diri untuk terus membaca.  Dan ketika saya coba menikmati halaman demi halaman buku ini, lama kelamaan saya seperti tersihir dan terus ingin membaca sampai habis. Terutama ketika mulai masuk Bab 8. Padang Pasir,  yaitu cerita ketika nabi didatangi oleh dua orang lelaki yang membelah dadanya, mengeluarkan hati kemudian membasuh dan menyucinya. Terlebih lagi kisah nabi ketika melakukan Isra Mi’raj dengan mengendarai Buroq, campuran kuda-keledai bersayap, sambil ditemani malaikat Jibril, yang kemudian bertemu rasul – rasul terdahulu, bertemu Allah dan melakukan negosiasi waktu sholat. Wow.. Subhanallah.

Pada intinya saya sukaaaaa banget dengan buku ini. Karena ceritanya bukan hanya sekedar dongeng belaka, tapi benar – benar kisah nyata perjalanan hidup Nabi. Coba bayangkan kalau kita hidup di Jaman itu. Jika direnungkan, perjuangan Nabi kala itu untuk mengenalkan, menyebarkan dan menegakkan agama Islam sungguh luar biasa. Dan pengikut – pengikut serta sahabatnya pun juga orang – orang yang luar biasa, sosok – sosok yang loyal dan kaffah, yang rela mengorbankan harta bahkan  nyawa demi Islam. Seharusnya kita bersyukur banget hidup di Jaman ini, yang sangat diberikan kemudahan dalam merasakan nikmat Islam. Namun kadang kita masih suka setengah – setengah. Hh, jadi malu sama diri sendiri.

Buku inilah yang menemani malam – malam Ramadhan saya. Dari pulang terawih, hingga ketiduran, sampai terbangun sahur. Mengenal sosok Nabi lebih dekat membuat saya makin terpesona. Perjuangannya bikin terharu.

Muhammad, you fill my heart.. ^_^

"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam Al-Qadar.
Dan tahukah kamu apakah malam Al-Qadar itu? Malam Al-Qadar itu lebih
baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ar-Ruh
dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh)
kesejahteraan sampai terbit fajar."


Sesuai yang saya simak dan saya dengar di sebuah kajian,
tafsir surat ini sungguh dalam maknanya.
Kata inna yang berarti sesungguhnya,
merupakan penekanan dari pernyataan Allah yang harus kita simak baik – baik.
Dan kata ma adraka, sepenggal kata yang menyatakan suatu ketetapan Allah
yang berada di luar nalar dan diluar jangkaun akal manusia,
namun sungguh pasti akan terjadi.
Dimana dijelaskan bahwa malam itu adalah malam yang sempit.
Sempit karena bumi penuh sesak dengan malaikat,
karena konon katanya pada malam itu seluruh malaikat bersama pimpinannya, Jibril,
turun ke muka bumi dan mendoakan orang – orang beriman.
Sungguh malam yang luar biasa bukan? Malam yang penuh berkah.
Jika kita benar – benar meyakininya dan bersungguh – sungguh ingin meraihnya.

Malam Lailatul Qadr adalah malam mulia yang tiada bandingannya.
Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al Qur’an,
yang turun di satu hari diantara 10 malam terakhir bulan Ramadhan.
Karenanya pada hari – hari terakhir Ramadhan
kita disyariatkan untuk memaksimalkan ibadah kita.
Nabi sendiri menganjurkan untuk I’tikaf di masjid
seperti yang selalu beliau lakukan (sunnah muakad).
I’tikaflah, semampunya, sebisanya dan sesempatnya.
Untuk memohon ampun, bermuhasabah, berdzikir,
dan berdoa dengan tulus ikhlas mengharap rahmat-Nya.
Semoga dengan niat yang bersih,
Allah meridhoi kita untuk merasakan nikmatnya Malam Lailatul Qadr.
Amin

Hm…

Kangen bapakibu adekadek..

Kangen mbah ni..

Kangen tahu campur ungaran..

Kangen roti cane..

Kangen sambel trasinya ampera..

Kangen wajan kompor panci dkk..

Kangen sama kucing yang suka lewat depan rumah..

Kangen temen – temen..

Kangen bandung..

Kangen diomelin bapakibu..

Kangen ngomelin adekadek..

Kangen nulis-nulis lagi..

Kangen semuamuanya…

hiks

Tulisan ini bertema campur aduk ..ditulis khusus dalam bentuk paragraph entahlah dengan susunan bahasa suka – suka saya.. didedikasikan untuk mengeluarkan isi hati, menyemangati diri sendiri dan menyemangati teman – teman yang merasa tersemangati setelah membaca tulisan ini.. (emang ada yang tersemangati gitu??hehehe)

Si Di                      : Napa kamu?

Si X                        : Stress sama kerjaan. Kamu napa?

Si Di                      : Stress belum dapet kerjaan

Si Di & Si X           : ????

Wkwk…belum kerja => stress, dah kerja => tambah stress. Manusia…Maunya apa  bu??? Ya, sekilas kita langsung tau kalo memang keduanya berada pada tingkat stress yang berbeda dengan level masalah yang berbeda pula, jadi kalo ditanya ‘maunya apa?’ jawabnya juga pasti beda. Tapi kalo ditelusuri lagi, sebenarnya dua – duanya punya akar permasalahan yang sama dan mendasar. Apa masalahnya?

Kita tengok dulu pepatah ini “Orang yang paling menikmati hidup adalah orang yang paling bersyukur..” Karena stress itu pertanda sedang tidak menikmati hidup. Jadi akar masalahnya adalah… jeng  jeng jeng…

K u r a n g    b e r s y u k u r………….’’’

He? Iya. Kurang bersyukur. Sekarang kita fokus ke si Di (yang saya tau betul gimana perasaan dan kegelisahannya saat ini) dan abaikan saja si X (yang saya tau betul gimana perasaan dan kegelisahannya saat itu, tapi gak penting buat dibahas disini :D ). Oke Di, sedikit nasehat untukmu. Sekarang ini cobalah untuk sedikit rileks dan mensyukuri apa yang udah Tuhan kasih ke kamu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kamu hidup, bukan di gubuk reyot tapi tinggal dirumah beratap bersama bapak ibu adek – adek serta kura – kura tercinta. Kamu punya mata buat baca – baca, punya tangan buat ngetik – ngetik, juga punya kaki buat jalan – jalan. Kalo kamu ditawari kerja di Telkom dengan syarat barteran sama satu mata plus sebelah kakimu… mau nggaaaak? Gak mau? Yawda, mata n kakinya dituker ama duit 1 M aja gimanaaaaa?? Lumayan tu buat modal bisnis. Gak mau juga?……….Begitulah Di, kita sebenarnya berada dalam kenikmatan yang tiada tara, namun kita suka gak menyadarinya.

Masih stress,,Tuhan kemana ya? Udah doa tapi kok gak kunjung dikabulin juga

Hussh. Doanya dah khusyuk belum? Udah dari lubuk hati yang paling dalam? Udah gak khusyuk, cuma ndoain diri sendiri pula..wkwk..parraah. Coba kita tengok lagi satu kisah ini. Pada suatu hari di sebuah kota kecil bla bla….ada anak namanya Erza..bla bla.. dia adek saya yang masih SMP.. anaknya kurus tinggi langsing bla bla bla…bla bla …(setelah dipersingkat 1 jam..) si Adek waktu itu ngotot banget minta dibeliin motor, katanya biar berangkat sekolahnya gak repot. Padahal buat mejeng aja tuh:D Memang sih si Adek ini udah jago banget naik motornya. Bahkan lebih jago dari saya. Tapi apa keinginannya dikabulin sama Ibu?? Gak dunk, umur belum nyampe 16, SIM juga belum ada. Jadi motornya pending dulu.. Tar aja pas SMA………. Begitulah analoginya Di. Tenang aja, bukannya gak dikabulin. Tapi belum dikabulin. Barangkali emang waktunya belum tepat. Ini The Secret-nya Tuhan. Understand?

Tapi masih strees

Sabar ya..belum rejekine (someone)

Percaya deh sama Yang Maha Ngasi Rejeki, tar pasti dibukain jalan. Kamunya juga kudu giat tapi.. Kan bersama kesulitan selalu ada kemudahan,,

Masih stress tu,,

Gak papa kali dee, semuanya kan butuh proses… (Jenk Fathi)

Betul ya bu. Seorang bayi ketika baru lahir gak mungkin tiba – tiba bisa langsung jalan bisa langsung  ngomong (serem itu mah).. Butuh proses…. Sejak SMP saya juga udah tau kalo berjibab itu hukumnya wajib buat wanita, tapi baru make jilbabnya pas kuliah.. Butuh proses…. Setelah berkali kali kali kali kali percobaan, akhirnya Thomas A Edison berhasil juga nemuin lampu.. Butuh proses….. Dan untuk permasalahan yang sama, proses yang dibutuhkan antara orang yang satu dengan orang yang lain ternyata beda – beda. Ada yang cepet ada yang lambat. Ada yang kilat ada juga yang lemmmmmoot. Hmm., proses. Setelah proses selalu ada hasil, sehingga proses selalu dikaitkan dengan hasil. Selama ini saya banyak mengenal orang – orang yang berorientasi pada proses dan menggaungkan bahwa “Proses itu lebih penting daripada hasil…” karena proses akan membawa kita ke satu tingkatan ilmu, tingkatan pendewasaan diri dan bla bla bla…kya kya kya.. Entah sejak kapan ya, saya akhirnya ikut2 ‘terjebak’ dalam paradigma ini. Karena berorientasi pada proses, jadi pas hasil yang dicapai gak sesuai keinginan, saya jadi cenderung nrima dan pasrah.  Gak salah juga sih..Tapi..  waaa… gak boleh begini terus ni.

Perasaan dulu saya orang yang selalu berorientasi pada hasil..

Dulu..Biarpun keliatan lemah, pendiam dan mudah dianiaya tapi ketika saya menginginkan sesuatu, saya selalu berusaha keras untuk mencapainya. Misalnya, ketika ikut lomba cerdas cermat, lomba 17 Agustus (hehe) atau lomba – lomba lain (pas jaman baheulaaaa dulu).. Saya selalu menanamkan pada diri saya kalo saya harus jadi juara, mau juara 1, 2 atau 3, yang penting pulangnya harus bawa piala.. Karena keinginan itu sangat melekat kuat, jadi saya mati – matian mempersiapkan diri.. Dan ketika piala itu di tangan saya.. rasanya puaas sekali.. Hmm,belakangan belakangan dan belakangan ini saya gak seperti itu lagi. Entah sejak kapan saya berubah jadi orang yang nyante dan kurang berambisi….. waaa gak boleh juga ni. Ambisi asalkan proporsional gak dilarang kok…Hmmmm lagi….  mari belajar dari masa lalu. Anggap ini suatu kompetisi

Lalu apa yang salah? Dan sekarang mesti gimana?

Kelihatannya kurang serius, kurang kentheng (basa indonya apa ya?), nggampangin, nyepelein, kurang cakep (walah…kalo ini mah susah). Mesti gimana ya? Lebih serius lagi, lebih kentheng lagi, tapi jangan spaneng.. Pas lagi gagal, bolehlah bersedih – sedih dikit … tapi bentar aja…habis itu mesti bangkit dan semangat lagi. Okeh?  Kalo udah mentok??  Berani banting setir lah yaa..

Si X         : Masih stress?

Si Di       : Masih

Si X         : Gak jadi S2?

Si Di       : Pending dulu. Pokoknya ijaZah S1-nya HaRuS berguna dulu.

Si X         : Amien.

Wanita  ibarat bunga. Ada yang memikat serta harum baunya. Ada yang cantik tapi berduri. Ada pula yang nampak biasa – biasa saja, namun semakin lekat diperhatikan, semakin indah dan mencuri perhatian.

Wanita itu spesial. Pernahkah mendengar kalau di belakang pria hebat selalu ada wanita hebat? Pernahkah juga mendengar bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu? Wanita didudukkan pada posisi yang istimewa, agar dapat menunaikan tugasnya dalam kehidupan insani . Sebagai seorang istri, yang setia mendampingi, mengingatkan, menentramkan, serta turut meneguhkan jiwa dan semangat suami. Sebagai seorang ibu, yang harus sabar, telaten dan cerdas dalam mendidik putra – putrinya.

Wanita sholehah. Adalah sebaik – baik perhiasan dunia. Yang senantiasa menjaga ibadah dan akhlaknya. Menjaga keimanan dan ketakwaannya. Dan menampakkan jejaknya dalam perkataan dan amalan.  Wanita sholehah itu cantik.  Begitu cantik hingga diletakkan-Nya cahaya di wajah mereka. Dan dijanjikan-Nya satu tempat di surga.

Islam  menempatkan wanita pada posisi yang aman, terhormat dan terjaga kesuciannya. Diturunkan-Nya pula surat An-Nissa, untuk mengingatkan begitu istimewanya kita, kaum wanita.  Menjadi wanita adalah pilihan. Dia yang memilihkannya untuk kita, dan menjadi wanita adalah amanah sepanjang masa dengan tugas yang luar biasa.

Tapi aku malu menjadi wanita..

Aku malu jika pada kenyataannya aku belum mampu menjadi sosok wanita yang diharapkan-Nya. Dan aku malu menjadi wanita, jika faktanya aku sering lupa dan terlena. (Atau melenakan)

Karena sungguh, ternyata sulit menjadi seorang wanita..

Teringat satu moment,

“…….wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula.” Kata seseorang kepadaku.

Deg. “Apa aku wanita yang baik?”. Berkali – kali membaca dan mendengar ayat ini, namun baru kali ini pertanyaan itu terbersit dalam benakku. Rasanya  makin malu,  karena kutahu jawabannya. Namun pada saatnya nanti, jika memang aku layak ya Rabb, kutunggu janji-Mu ^^

Di suatu pagi setelah kunjungan seorang tetangga..

Anak        : Bu Mar nopo pah?

Bapak       : Meh jual rumah. Kasian lho, rumahnya udah di-bank-ke. Tinggal nunggu disita thok. Tapi papa ya gak sanggup tho kalo seketika itu disuruh beli rumahnya.

Anak        : Lha napa ik? Kok ngesakke ya..padahal kan dah tua gitu. Lha anak-anake pada kemana?

Bapak       : Nha itu justru buat biaya pengobatan anak mantune. Dah habis banyak itu buat ngobatke. Anake yo dah bangkrut, gak bisa kerja lagi.

Anak        : Kok bisa ya?

Bapak       : Ujian hidup. Kuasane gusti Allah itu. Papa mung bisa bilang, kalo hukum karma itu berlaku.

Anak        : Maksude opo ki? Emange dulu napa ik?

Bapak       : Papa gak ngomongin uwong lho ya, yang jelas kalo kita bermasalah sama harta, nanti pasti dibalesnya sama harta juga.

Anak        : Nyrempet – nyrempete ngomongin uwong juga ki.

Bapak       : Rakpopo, mbek anake dhewe. Pokoke kalo kamu ketitipan harta kudu amanah ya.

Anak        : Emange ngambil yang bukan haknya, gitu-gitu ya pah?

Bapak       : Yo gak tau juga ya. Moh ngomongke uwong ah. Papa cuma ngrasakke aja. Papa dah banyak pengalaman ya. Ngliat kehidupane papa dhewe, kehidupane wong-wong. Pokoke yang diunduh sekarang pasti ada sangkut paute sama yang udah kita lakoni dulu.

Anak        : Oooo, percoyo2.

Bapak       : Trus anak itu cerminan orang tua.

Anak        : Ya iyalah, kan gen-nya nurun. Kok ujug-ujug nyambunge iki. Aku ya?

Bapak       : Gak ngono, maksude yang udah dilakuin orang tua bisa kena ke anak juga. Biasane bisa dilihat pas anak-anak belum akil balig lan durung ngerti bener salah. Lek wong tuone apik, mesti anake yo apik.

Anak        : Ah, gak juga ah. Gak selalu kaya gitu. Tetep tergantung bocahe. Pas SMP temenku ada yang begajulan, suka’e gelut. Padahal bapake ustad.

Bapak       : Njobone Ustad, njerone kan kowe rak ngerti. Jangan selalu ngliat orang dari profesi atau penampilan lho nduk. Orang itu belum tentu sebaik yang kita pikir atau sejelek yang kita pikir.

Anak        : Oia ya

Bapak       : Trus kalo tuane sakit aneh-aneh, biasane ki berhubungan sama sifat dan perilakune di masa lalu

Anak        : Mosok sih? Kalo berhubungan sama pola hidup iya

Bapak       : Yang acarane ustad Danu tu lho

Anak        : Oia ya. Yowis2.

Bapak       : Meh dadi wong apik opo wong elek ki terserah kowe, tapi nanti pasti ada balesane. Biasane nanti ngunduhe kalo dah tua.

Anak        : Iya. Kalo juga umure nyampe tua..

Bapak       : Tau Mbah Jo kan?

Anak        : Yang ngasuh Mbh Ti kan?

Bapak       : Dulune wong sugih sakndeso, tapi terakhir2 akhirnya hartane habis tho? Anake banyak tapi yang dadi wong siji thok.

Anak        : Hwoo..

Bapak       : Dulu jahat sama dulur-dulure. Anak-anake yo dulu suka njahati Mbah Ti

Anak        : Ooo. ya ya.

Bapak       : Gak usah adoh-adoh. Liat Mbah Ti tu. Asale wong mlarat gak punya apa-apa,biar sederhana tapi sekarang uripe ayem tentrem. Dulur-dulure pada nggumun. Pas jadi janda kan gak punya pegangan apa-apa tho, mana anake jek cilik-cilik, cuma dodolan kacang dst tapi Alhamdulilah anake 4 mentas kabeh. Soale Mbah Ti wonge apik, sabar, ulet, suka nulungi orang. Coba liat, bisa sampe naik haji juga. Ngandelin pensiunan tentara ki sepiro tho, kalo bukan karena ditulungi Allah?

Anak        : Hoo..ya ya

Bapak       : Tau ceritane Mbah To juga tho? Dulune sugih, sekarang coba liat gimana..

Anak        : Tapi keto’e malah nyadarke yo pah

Bapak       : Pokoke jangan lupa zakat infak, nggo ngresiki harta. Jadi orang jangan sombong, rumongso awake sangar, tenar, bener dhewe pinter dhewe. Nanti mbalike kan tetep ke tanah juga. Trus jangan suka ngremehin orang

Anak        : Ya

Bapak       : Wes, pokoke berusaha dadi wong apik yo nak. Gak akan rugi. Kalo ada masalah ini itu namanya juga hidup ya gak akan mulus terus. Tetep ada ujiane

Anak         : Ya ya. Tapi meh dadi wong apik ki yo uangel yo pah..

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (Qs. 99:7-8)


“……Dan diantara gunung – gunung itu ada garis – garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.”  (Qs. 35:27)

,

jadi teringat 4 bait

yang dulu sering banget dinyanyiin pas jaman TK

,

kalo gak salah begini..

Pelangi – pelangi, alangkah indahmu

Merah kuning hijau, di langit yang biru

Pelukismu agung, siapa gerangan

Pelangi..pelangi.. ciptaan Tuhan

,

tadi pagi ada pelangi

sepertinya memang sengaja datang untuk hari ini


selamat hari bumi!!